Membangun Masyarakat Pancasila

Dalam kehidupan bermasyarakat, ada dua kategori masyarakat yang sering kita sebut sebagai massa. Kategori ini menentukan bagaimana berkembang dan berkualitasnya kehidupan di suatu negara.

  1. Masyarakat Real

Masyarakat Real terdiri dari elemen masyarakat yang paling awal dan mendasar, ruang lingkupnya adalah ruang lingkup kekeluargaan dan persaudaraan. Dimana setiap harinya masyarakat ini saling berhubungan satu sama lain dan saling berinteraksi secara langsung di lingkungan, bauik secara moral, sosial dan spiritual. Masyarakat ini tebangiun karena kedekatan hubungan dan intensitas interaksi yang terjadi setiap hari dalam kehidupan masyarakat.

Masyarakat Real ada pada ruang lingkup keluarga, tetangga dan warga. Atau secara birokrasi dan administrasi disebut dengan Rukun Tetangga, Rukun Warga.

Hubungan yang sangat erat dan dekat terjadi pada dunia masyarakat real, sebab secara nyata dan langsung mereka beraktivitas dan berinteraksi bersama di lingkungan setiap harinya. Mereka saling mengenal dan melihat langsung realita kehidupan satu sama lainnya, bagaimana kebiasaan, pekerjaan dan aktivitas terjadi dalam ruang lingkup keluarga dan tetangga.

2. Masyarakat Artifisial

Sesuai dengan namanya, masyarakat ini bukanlah masyarakat nyata. Masyarakat Artifisial tidak alami, iaadalah masyarakat bentukan suatu sistem yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Yang membuat masyarakat artifisial inilah yang memiliki tujuan, dimana untuk mencapai tujuannya ia membutuhkan kumpulan masyarakat dengan jumlah yang banyak.

Masyarakat Artifisial hidup jauh dari lingkungan sekitar ia berkisar pada orang-orang tertentu yang saling terhubung satu sama lain bahkan di tempat yang sangat jauh sekalipun. Sangat minim bertatap wajah dan berinteraksi secara langsung. Masyarakat jenis ini tidak kokoh dan sangat rapuh, sebab tidak memiliki ikatan sosial dan moril. Mereka hanya terikat dengan kesamaan kegemaran, minat, tujuan, cita-cita dan tujuan-tujuan lainnya.

Masyarakat Artifisial lebih cenderung bermain di wilayah-wilayah spekulatif, yaitu guna mencapai tujuannya maka mereka harus melakukan serangkaian upaya atau strategi. Mereka seperti masyarkat, namun sebenarnya mereka hanyalah kumpulan orang-orang yang berkumpul dalam satu wadah tertentu, kita sering menyebutnya sebagai lembaga, organisasi, orpol, ormas, lsm, dll.

pondok-pancasila-logo

Beranjak dari hasil pemetaan tipikal atau kategori masyarakat, maka akan mempermudah kita untuk menata ulang atau mengenali penyebab yang sebenarnya dari berbagai permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Jika sudah menemukan penyebab dari permasalahannya, maka akan mempermudah kita untuk menemukan solusi atau jalan keluar untuk segera menyelesaikan dan memperbaiki keadaan.

Iklan

Penentu Nasib

Tema : Ketuhanan

Oleh : Eza Azerila


_

Pondok Pancasila – Jika kamu beranggapan bahwa nasib buruk manusia pun sudah ditentukan Tuhan , kamu sedang menuduhNya sebagai kejam dan zalim.

Jika kamu menganggap bahwa kamu lah mutlak yang menentukan nasibmu setelah Tuhan menciptakanmu, maka kamu sedang menuduhNya sebagai pengangguran.

Jika kamu berupaya keras dan maksimal lalu kamu menemukan hasilnya kemudian kamu bersyukur atas segala daya dan kemampuan yang difasilitasi olehNya maka kamu adalah orang yang tidak menuduh Tuhan sebagai zalim dan tidak pula menuduhnya sebagai pengangguran.

Dengan sikap yang benar ini agar kamu tidak jatuh pada keputus-asaan atas kegagalan usahamu dan juga tidak jatuh pada kesombongan atas kesuksesan dan keberhasilanmu.

Equilibrium

Tema : Logika dan Matematika

Oleh : Abrahami ( Biiz )


Pondok Pancasila – Bayangkan Jika dalam perang Barathayuda, Krisna, Raja Dwarka yang agung itu benar-benar netral. Dalam artian menarik diri dari sengketa putra-putra Baratha dan  memutuskan untuk tidak tahu menahu. 

Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Dorna  akan berhutang banyak darah pada para putra pandu. Karna akan membasmi saudaranya sendiri. Punta Dewa akan menjadi si Jujur yang sangat buruk dan Arjuna akan matu dicincang ditengah padang kurusetra atas kehendaknya sendiri. Sementara itu, Derestrata akan berkabung sampai wafat menyesali kekejaman putranya. Kunti akan mengutuk putranya sendiri dan Gandari akan mengikuti jejak iparnya. Duryodana mungkin akan berkuasa, tapi kemudian dihancurkan oleh rakyatnya sendiri. Siapa yang dapat menerima seorang yang serakah sebagai rajanya. Garis takdir akan menyeret setiap pelakon keluhuran dalam garis kejonyolan sekaligus kenaifan.
Tapi kisah wiracarita ini berkata lain. Krisna masuk dalam dua kubu sebagai penyeimbang. tak patut seorang kesatria membiarkan saudara-saudaranya saling bunuh tanpa berupaya menempatkan dirinya sebagai juru damai atau wasit demi menastikan peperangan berjalan sesuai kode etik para kesatria. 
Krisna hadir dengan Opsi damai. sekaligus opsi perang. ia berada di dua kubu dalam perwujudan yang berbeda. pada pandawa sebagai kusir, pada kurawa sebagai logistik dan bala tentara. ketika peperangan terjadi, ia benar-bebar memegang hasil akhir dari peperangan tersebut. Krisnalah sebenarnya pemilik sekaligus pengendali perang. Beliau yang membentuk pola bagaimana kisah naas kurusetra harus terjadi. inilah equlibrium. dasar utama yang membuat segala yang tampak kacau memiliki pola dan hukum. Keseimbangan hadir dalam setiap gejala kehidupan. baik yang dalam fikiran kita anggap menyenangkan ataupun menyakitkan.  
Dalam gejolak alam raya pas-ca ledakan agung yang membuat seluruh partikel dan mineral berhawa panas terpental, ada kekacauan yang tersusun dalam pola yang rumit sekaligus simpel. inilah paradoks alam kehidupan yang dapat kita saksikan dari mata terbatas ataupun mata yang disinari kebijaksanaan. Seperti Krisna, Equilibrium hadir untuk membuat kehidupan ini lebih sempurna, lebih hidup, lebih menegangkan dan lebih mengesankan.

Spiritual Vs Religius ??? (1)

Tema : Kebijaksanaan
Oleh : Ridhwan Kulainiy

.
Pondok Pancasila – Kosa kata bahasa Indonesia semakin berkembang dengan berbagai serapan bahasa baru, baik dari bahasa Inggris maupun bahasa Arab. Tak sedikit juga bahasa-bahasa tersebut yang sebenarnya berasal dari bahasa Yunani, Belanda, Jerman, China dll.
.
Sejatinya bahasa manusia memanglah satu, saling berhubungan satu sama lain dan seringkali memiliki kesamaan arti atau makna satu sama lainnya. Meskipun terkadang berbeda satu ada dua huruf ataupun beda cara pengucapannya.
.
Kali ini kita mau bahas sedikit dua bahasa yang seringkali di anggap bertentangan oleh khalayak (masyarakat umum) yang sebenarnya ketika ditelisik akar bahasanya, maka bisa kita maknai dengan benar dan cermat.
.
Menurut kamus Webster, Spiritual berasal dari kata Spirit. Spirit berasal dari bahasa latin “Spiritus” yang berarti nafas (breath) dan kata kerja “Spirare” yang berarti bernafas. Melihat dari asal katanya, yaitu bernafas. Makhluk yang bernafas dikatakan hidup, nafas ibarat ruh(nyawa) bagi jasad. Ketika tidak bernafas maka seolah ia tidak bernyawa atau mati.
.
Dari sini bisa kita maknai, bahwa Spiritual adalah menyangkut mengenai hal yang bersirkulasi dalam diri, baik darah, udara maupun hal lainnya yang berperan menghidupkan suatu jasad dari kondisi matinya. Atau sering kita sebut sebagai, Ruh atau Nyawa.
.

Religius
berasal dari bahasa Belanda Religie yang berarti mengikat kembali, beberapa Filosof Yunani dan Eropa lainnya memaknai kata Religius sebagai istilah untuk sikap ketaatan seseorang terhadap sebuah ajaran agama tertentu yang diyakini orang tersebut. Dalam English disebut dengan Religious.
.
Ketika bernafas, seseorang sedang “mengikat” oksigen di sekitarnya dan kemudian ia hirup lewat hidung masuk ke dalam tubuhnya. Setelah masuk ke dalam tubuhnya, maka sirkulasi oksigen itu disebut sebagai proses bernafas.
.
Dari sini bisa coba kita cermati dan maknai. Religius berarti proses seseorang dalam memahami segala sesuatu di alam semesta ini, lalu mengikat dan menariknya untuk masuk ke dalam diri, baik itu materi, imajinasi maupun ilmu. Yang kemudian proses sirkulasi dan pengolahan materi, imaji dan ilmu di dalam diri kita sebut sebagai proses spirare. Yaitu menghidupkan diri dengan asupan-asupan khusus yang memang dibutuhlan oleh diri.
.
Tujuan dari proses tersebut adalah untuk mencapai kehidupan sejati sebagai seorang manusia, kebahagiaan abadi dan kesempurnaan hakiki. Dalam hal ini, adakah yang lebih sempurna, lebih membahagiakan dan membuat jauh lebih hidup dari pada kedekatan dengan Sang Pencipta.…??
.
Nah, dari sini bisa kita pahami bahwa Proses Religiusitas dan Spiritualitas adalah bertujuan untuk membuat manusia menyempurnakan dirinya, secara biologis, psikologis dan ideologis untuk mencapai kedekatan dengan Sang Maha Sempurna.

Sehingga manusia mampu mencapai kebahagiaan sempurna dan kehidupan abadi dalam kasih Tuhan.


.
Jangan dibenturkan lagi yaa…??

Dan jangan lupa ikuti bagian selanjutnya…!!

Proporsi Geometri Dan Persaudaraan Umat Manusia

Tema : Logika dan Matematika

Oleh : Abrahami (Biiz)

Pondok Pancasila – Jika seseorang berdiri pada satu titik dan menghadap satu titik lagi yang berjarak dihadapannya, maka ia telah mmembentuk sebuah persepsi ruang antara dirinya dan titik pandang tersebut. Kemanapun seseorang berpaling diseluruh penjuru semesta ini, mode persepsi ini pasti terjadi.
Setiap persepsi  ruang yamg terbentuk ini dapat dilacak hubungannya dengan persepsi ruang yang lain dengan menghitung proporsinya masing-masing dengan menggunakan bilangan. Entah Bilangan yang membentuk ruang, entah ruang yang membentuk bilangan, yang jelas Fikiran manusia selalu terhubung dengan dua hal ini ketika mengarahkan pandangannya keseluruh penjuru bumi.
Bilangan dan Ruang hadir dalam fikiran manusia dengan nama “proporsi”. Ketika Thales ingin menghitumg tinggi piramida Giza, ia tidak memanjat untuk mengukurnya, beliau cukup menghitung panjang bayangannya yang diasosiasikan sebagai garis oposite dari Kuadrat terpanjang sebuah segitiga siku-siku. ketika ia dapat menemukan kuadrat terpanjang, ia dpt menemukan Tinggi dari Piramida. Kenapa begitu? karena Thales mengetahui adanya hubungan ruang antar ruang. Hubungan ini merupakan refleksi dari Proporsi. 
“Proporsi” adalah tanda dari keteraturan dan perencanaan yang matang. Jika kita memgatakan bahwa Seluruh ruang di alam semesta ini memilik proporsi matematis, maka dapat dipastika bahwa kehidupan ini telah terancang dengan keteraturan. Kehidupan dan seluruh isinya termasuk manusia memang direncanakan “ada” dialam semesta ini. 
Alam ini adalah refleksi dari Geometri dengan simetrisitas tak terhingga. Semesta dibangun dengan kedahsyatan dan keindahannya. Ukiran semesta ini bersandar pada prinsip-prinsip proporsi yang terdapat dalam geometri. 
Kemampuan berfikir atau “Logika” yang dimiliki manusia membuatnya memiliki kemampuan untuk menghubungkan setiap persepsi Geometris.  Mereka mulai membuat banyak hal dari kemampuan ini. Bangunan yang megah, Jalur transportasi, ukiran ukiran indah, Teknologi bahkan kotak tisyu. Kecerdasan ini membuat manusia mengerti tentang yang simetri dan tidak simetri, yang presisi dan tidak presisi, yang baik dan tidak baik, yang benar dan tidak benar, yang dengan ini akhirnya manusia dapat membuat dan kesepakatan secara tertulis dan tidak tertulis pada beberapa prinsip “Etika”.
Setelah mengerti tentang ukuran benar dan salah, baik dan buruk, manusia memiliki pengertian tentang yang indah dan tidak indah. Dengan menggunakan prinsip proporsi dan bilangan , manusia  menciptakan hal-hal indah mulai dari bangunan, Musik, teknologi bahkan puisi. Kehidupan manusia penuh dengan “Estetika”. 
Pengetahuan tentang yang benar, yang baik dan yang indah ini disebut dengan “Adab”. Ketika kehidupan manusia dilengkapi dengan komponen Logika, Etika dan Estetika, maka lahirlah peradaban. Ketika kehidupan manusia jauh dari hal-hal tersebut, maka lahirlah kebiadaban.
Prinsip-prinsip dalam Geometri telah mengajarkan manusia tentang betapa kehidupan ini telah direncanakan dengan baik oleh Perancang Agung yang telah menetapkan setiap proporsi dengan amat bijaksana. Dengan proporsi ini, seluruh kehidupan dipastikan terhubung satu sama lain. Karenanya, setiap komponen dari seluruh kehidupan adalah berasal dari sumber yang sama. Abadi dalam persaudaraan.

Desan Simbol Heksagram Lotus by 

Ridhwan Kulainiy.

Geometri is art.

Siapakah kamu ?

Tema : Kemanusiaan

Oleh : Eza Azerila

_

Pondok Pancasila – Kamu di hadapan Tuhan hanyalah sebatas anggapanmu terhadapNya

Kamu di hadapan kehidupan pun sebatas anggapanmu terhadapa kehidupan ini

Kamu di hadapanku pun sebatas anggapanmu terhadapku

Anggapanmulah yang memposisikan kesiapa-anmu di hadapan apa dan siapapun

Jika kamu melihat Tuhan begitu luas maka hidupmu seluas anggapanmu itu

Jika hidupmu sempit sesak dada itu hanya anggapanmu betapa sempitnya tuhanmu

Jika kamu menganggap hidup ini kebahagiaan, maka kamu mengisinya dengan bahagia dan membagi kebahagiaan

Siapakah kamu ?

Kamu adalah ciptaan anggapanmu

Persamaan Linier Dan Grand Desaign

Tema : Logika Dan Matematika

Oleh : Abrahami (Biiz)


Pondok Pancasila – Bayangkan anda menghadapi sebuah perjalanan di lautan, tiada peta, tiada pengetahuan tentang watak gelombang, tidak ada pengetahuan tentang navigasi baik itu melalui arah bintang atau melalui peralatan modern seperti kompas manual ataupun digital. seseorang yang terjebak dalam kondisi ini pasti seolah sedang melakukan perjudian dengan spekulasi keberhasilan yang tidak dapat diprediksikan, ia harus menguji semua kemungkinan dan merasakan dampak-dampak dari kesalahan pilihan. Perjalanan seperti ini adalah perjalanan yang akan menhadapi banyak persoalan, yang sebagian besar diantaranya tidak dapat diselesaikan. 
Bayangkan jika perjalanan di lautan itu adalah asosiasi dari perjalanan hidup manusia dan alam semesta. Jika alam dan kehidupan manusia tidak memiliki pola, maka konsekswensinya segala sesuatu terjadi secara kebetulan, yang artinya kehidupan ini adalah sebuah perjudian. Namun nalar manusia menolak hal ini dengan adanya fakta bahwa kehidupan tersusun dalam sejumlah kejadian yang masing-masing berpusat pada sebuah pola yang sama yang karenanya kita dapat melakukan identifikasi, menetapkan ukurannya kemudian menyesuaikan diri. Dari sini manusia membangun peradaban, menyusun aksara, menyusun simbol bilangan, satuan ukur, pola aksitetur dan mekanika, menyusun tabel prilaku atom, konsumen-produsen, pasar. Membahasnya dalam digit, kurva dan diagram. Ini semua menunjukkan sebuah desain sempurna yang melatari setiap kejadian yang karenanya dapat dianalisa, difahami dan diterapkan ulang. . 
Salah satu subjek pembahasan dalam matematika adalah persamaan linier. maksud dari persamaan linier adalah pengujian dengan menggunakan pola atau struktur yang telah mapan. Mungkin ada sesuatu yang masih tersembunyi, menjadi misteri atau belum diketahui secara pasti, nilai, bobot atau bahkan kebenarannya. Namun dengan adanya pola yang tetap dan tidak berubah ini, sesuatu yang menjadi misteri, tersembunyi dibalik labirin yang dalam akan dapat terkuak. Dalam ilmu  Logika dikenal sebuah prinsip yang disebut prinsip Kausalitas, bahasa umumnya sebab akibat. Prinsip sebab akibat ini adalah pola umum yang terjadi pada semua hal, ia adalah sebuah pola yang tetap dan tidak akan berubah. Jadi sebenarnya, segala sesuatu didunia yang tampak acak ini, terdapat sebuah pula yang menghubungkan semuanya. Dalam matematika nilai yang tetap dan tidak berubah ini disebut dengan Konstanta. Konstanta inilah yang membentuk pola operasi dari persamaan linier.
Dalam kehidupan sehari hari ada hukum Sebab akibat yang adalah “konstanta”. dan realisasinya pada berbagai prisitiwa adalah “Variabelnya”. Setiap peristiwa sebelum ditemukan solusinya disebut masalah, dan masalah yang hendak ditemukan solusinya disebut dengan Variabel. Misalnya Air mendidih pada 100° C. Kejadian Proses Pemanasan air tersebuat adalah salah satu Variable dan Kausalitas adalah konstantanya, sedang Air dan Api adalah Koefisienya. 
Air Mendidih = x (Variabel)

Air dan Api = 2 (Koefisien)

Sebab Akibat = 2 (Konstanta) 

100°C = 4 (Hasil) 
2x+2 = 4

      2x= 4-2

      2x= 2

       x= 2 :2  

       x= 1
Kita tidak akan dapat mengetahui nilai dari hubungan api dan air (2) jika Sebab Akibat (Konstanta) tidak ada. Jika Konstanta Tidak ada, maka bagaimana air bisa menjadi mendidih pada 100°C  (x atau = Variabel), tetap akan menjadi misteri hingga akhir zaman. 
Pola dasar atau konstanta dari Semesta ini adalah hal yang paling dekat dengan kehidupan manusia.  Ia adalah Alasan kenapa seorang ibu menyayangi anaknya, seorang ayah mengorbankan kondisi fisiknya demi keluarganya, para tetangga saling menhormati dan tidak saling merampas, guru melayani muridnya, murid mempercayai gurunya dan lain sebagainya. Sebab akibat, Cinta, Belas Kasih, dan Empati inilah konstanta kehidupan itu. Jika ia tidak ada, maka kita tidak akan menemukan jawaban kenapa kehidupan ini terselenggara.
Abrahami

Matematika Dan Filsafat

Tema : Logika Dan Matematika

Oleh : Abrahami (Biiz )


Pondok Pancasila – Matematika adalah Filsafat, seorang yang belajar Filsafat tanpa matematika adalah seperti pencuri yang berandai andai bahwa barang curiannya adalah miliknya. Bagaimana ia mengaku dapat mengerti makna, sedang ia sendiri kesulitan untuk memahami simbol.

.

Begitupun sebaliknya, Filsafat adalah Matematika. seseorang yang belajar matematika tanpa belajar filsafat adalah seperti seseoramg yang membiarkan barangnya sendiri untuk dicuri. Bagaimana ia mengaku mengenal simbol, sedang ia sendiri tak mampu memaknainya.

.
Filsafat adalah neraca, sesuatu yang berdiri sebagai hakim. bukan alat untuk membuktikan  kecendrungan-kecendrungan teologis, ideologi  politik, ideologo ekonomi, atapun sentimen kebudayaan yang seseoramg gandrungi. 

.
Filsafat tidak punya otoritas, dia bukan agama yang butuh hirarki kewenangan. satu-satunya yang dapat membuktikan seseorang berfilsafat atau tidak adalah apakah ia dapat sejalan dengan prinsip prinsip ilmiah yang dapat di fahami secara predikasi maupun secara kalkulasi.

.
Seperti kata Hipatia,

Aku beriman kepada Filsafat.